Trip Mlancong




Provinsi


Dipublikasikan pada Hari Senin, 3 Agustus 2015 WIB

Mlancong-ers ke Telaga Warna dan Situs Megalith Gunung Padang, 23 Juli 2011

Trip ini hanya diikuti oleh lima orang, namun justru terasa kompak dan sangat seru dalam perjalanan. Baru masuk mobil saja Sang ”Deedee Ccantik” begitu dipanggilnya...langsung nyeloteh terus. Lumayan..buat hiburan....biar nggak terasa menembus kemacetan puncak pagi itu...hehehe.

Di Telaga Warna

Ikan-ikan Telaga Warna

In action dengan Bikers

Di Situs Megalith Gunung Padang

Di Situs Megalith Gunung Padang

Dan betul saja...tiba-tiba mobil berhenti dan sudah sampai di Telaga Warna ketika jarum jam menunjukkan pukul 9.30 pagi. Pagi itu cuaca cerah sekali, sinar mentari mencuat diantara celah-celah pepohonan di Telaga Warna, sungguh sempurna suasana pagi itu. Monyet-monyet juga banyak bergelantungan di pohon-pohon, seakan turut mengucapkan selamat datang kepada mlancong-ers.

Dua jam lamanya mlancong-ers berada di Telaga Warna, dan itu sama sekali tidak terasa. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Padang, diakhiri dengan makan siang di warung nasi Pak Odeg yang terletak tidak jauh dari Telaga Warna. ,” Ini warung nasi kaki lima tapi rasa bintang lima,” Kata Reni, salah satu mlancong-ers yang ikut dalam trip ini. Walaupun tempatnya sederhana, namun boleh dikatakan rasanya luar biasa. Hmm...puas dan kenyang, kemudian melanjutkan perjalanan ke Situs Megalith Gunung Padang.

Kurang lebih jam 1 siang mlancong-ers mencapai Situs Megalith Gunung Padang, Cianjur. ,”Duh..akhirnya sampai sini juga setelah berangan-angan terus,” Kata Susi, salah satu mlancong-ers yang ikut trip begitu sampai di halaman parkir.

Ternyata untuk sampai di situs utamanya kita harus menaiki tangga sejauh 180 meter dengan kemiringan hampir 70 derajat. Cukup membuat nafas ngos-ngosan dan dengkul kaki gemeteran. Namun begitu sampai di atas, semuanya terbayar lunas dengan keindahan pemandangan Situs Megalith Gunung Padang.

Beberapa hal yang menjadi pehatian mlancong-ers adalah batu seni, ukiran senjata kujang di batu, batu tapak macan dan batu gendong. Yang paling menjadi perhatian mlancong-ers dan pengunjung yang lain adalah batu gendong. Menurut kepercayaan, siapa yang bisa mengangkat batu gendong tersebut, keinginannya akan terwujud, boleh percaya boleh tidak.

Dan akhirnya jam 4 sore perjalanan berakhir, kembali ke Jakarta, menembus kemacetan Puncak di malan minggu, sampai Jakarta jam 10 malam. Sampai jumpa trip berikutnya ya..

By : AMGD



Kirim komentar

Nama :

Email :

Isi Komentar :

Masukan Angka Berikut ini : 396


×