Trip Mlancong




Provinsi


Dipublikasikan pada Hari Senin, 3 Agustus 2015 WIB

Malam Bertabur Bintang Di Langit Papandayan

Karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.30, ketika mobil baru melaju beberapa menit saja, tampak semua peserta sudah terlelap tidur. Baru kemudian ketika jarum jam menunjukkan pukul 3 dinihari, Mlancong-ers mulai terbangun karena jalanan yang mengarah ke shelter pemberhentian mobil menuju Papandayan mulai terjal dan berbatu.

Cupay in action

Dari kiri kenan : Om Win, Dance, Rita dan Ambar

Mantab...

Mendaki

Agak terjal

Foto keluarga

Nia in action

Di danau salju

Wiwieka in action

Di Pondok Salada

Di Pondok Salada

Di Tegal Alun

Weit..

Bahkan 1 kilometer menjelang garis akhir pemberhentian mobil, kabut turun dan terpaksa mobil terkadang jalan dan berhenti untuk memastikan jalanan yang akan dilalui adalah sesuai dengan jalurnya. Kurang lebih jam 4.30 akhirnya mobil yang membawa Mlancong-ers mendarat di shelter terakhir mobil.

Cuaca subuh itu memang sangat dingin sekali, sampai-sampai tulang tangan dan kaki terasa ngilu karena terkena dinginnya udara, hmm…sekitar 6-7 derajat celcius suhunya subuh itu. Berangsur-angsur suhu dingin berkurang seiring munculnya mentari dari ufuk timur. Sebelum perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, semua peserta tak mau kehilangan momen untuk mengabadikan permulaan perjalanan tersebut.

Rita, Jefri, Wiwika, Win, Siti, Cupay, Om Ozi, Ambar dan Nia, semuanya mengabadikan momen itu dengan gayanya masing-masing. Puas dengan momen tersebut, jam 7 pagi perjalanan pun dilanjutkan. Pendakian pun dilakukan, dan lagi-lagi pendakian berjalan sangat lambat karena banyaknya momen2 yang diabadikan. Wiwika, ya inilah biangnya, yang tak mau kehilangan setiap sudut keindahan Papandayan. Selalu saja bergaya…..!

Rita….walaupun terlihat kalem, tetapi tetap terlihat bernapsu ketika melihat momen dan kamera. Belum lagi disusul pasangan suami istri Win dan Siti yang terlihat nyentrik, cerdik dan harmonis….waduuh…lucu2 deh gaya fotonya..”belum pernah naik gunung ya Mas Win”! hehehehe…

Perlahan-lahan tenaga mulai terkuras ketika akhirnya dua jam kemudian tiba di danau salju. Sebetulnya bukan salju beneran sih, namun karena warnanya yang putih dan terlihat seperti salju, makanya dinamakan Gunung Salju. Momen ini boleh dikatakan sebagai momen yang sangat indah setelah lelah melakukan pendakian.

Melihat pohon-pohon yang meranggas, ditengah putihnya abu vulkanik, sungguh keironisan kegundulan ditengah kecantikan…sulit deh membayangkan keindahannya..karena memang terlalu indah untuk dibayangkan. Rasanya seakan-akan seperti berada di dunia lain.

Dan rupanya momen indah ini terus berlanjut ketika berjumpa dengan beberapa pohon edelweis dalam perjalanan menuju Pondok Salada, tempat Mlancong-ers mendirikan kemah. Walaupun wajah-wajah Mlancong-ers terlihat capai, namun ketika duduk disamping tenda di Pondok Salada, terlihat kebahagiaan dan kepuasan. Apalagi ditemani oleh speaker portable nya si Cupai…hmm…jadul bo lagunya…ada Fire House..Metallica…U Camp……busyet dah….

Setelah makan siang, maka perjalanan menuju Tegal Alun pun dilanjutkan. Kali ini memang medan yang harus dilalui cukup berat, hingga beberapa kali Mlancong-ers terpaksa beristirahat dan mengatur nafas untuk melangkah ke ketinggian berikutnya. Dan, perjuangan itupun tak sia-sia.

Penderitaan berganti menjadi kebahagiaan, Edelweis yang sedang mekar nampak mengembangkan kelopak bunganya, bergoyang-goyang ketika diterpa angin dan serasa mengucapkan selamat datang kepada Mlancong-ers. Akhirnya apa yang terjadi pemirsa ? berbagai pose pun keluar, dari mulai foto manis, sampai dengan lompat gaya Kung Fu sebagai apresiasi atas keindahan yang terlihat di depan mata.

Berjalan diantara Edelweis memang betul-betul memberikan sensasi tersendiri. Semilir anginnya, biru langitnya, rumputnya, semuanya terasa indah. Sampai-sampai Mlancong-ers terdiam karena meratapi keindahan tersebut. Rasanya 1,5 jam berada di Tegal Alun tak cukup, namun Mlancong-ers harus segera meninggalkan Tegal Alun menuju Pondok Salada sebelum malam menjelang.

Dan……malam itu…sungguh sangat luar biasa. Di Tengah dinginnya udara malam yang menusuk, Mlancong-ers berkumpul di depan api unggun dan menyanyi bersama-sama dengan speaker portable nya Cupay. Apalagi ditambah dengan bintang yang bertaburan di langit. Rasanya bintang-bintang itu dekaaaaat sekali, yah alam begitu dekat.

Sampai-sampai karena keindahan tersebut, mata yang tadinya terkantuk-kantuk, menjadi melek dan ingin terus menatap bintang yang bertabur di langit. Sebelum semuanya kembali ke peraduannya masing-masing, Cupay memutar lagu kenangan dari kelompok musik Dewa 19, yang memang membuat hati malam itu menjadi merinding dan galau. Duuh indahnya malam itu…malam bertabur bintang di Papandayan..

Keesokan harinya, Mlancong-ers bangun pagi dengan keadaan pegal, pastinya, karena tidur kurang nyenyak dan menahan dinginnya udara. Namun begitu, senyum kepuasan terpancar dari wajah Mlancong-ers, seakan ingin kembali memeluk keindahan Papandayan.

Sampai jumpa Papandayan…moga2 bisa kembali lagi…..

Trims ya atas semua partisipasiny…atas kebersamaannya  Pak Win..Siti…Rita…Ambar..Nia…Jefri…Om Ozi…Wiwika…Cupay..

By : AMGD



Kirim komentar

Nama :

Email :

Isi Komentar :

Masukan Angka Berikut ini : 666


×