Trip Mlancong




Provinsi


Dipublikasikan pada Hari Senin, 3 Agustus 2015 WIB

KEMILAU DAN ROMANSA SUKU BADUI

Diantara ratusan penumpang yang mulai berjubel, saya bersama ke-duabelas rekan Mlancong-ers (5-6 April 2012) saling berebut masuk kereta untuk mendapatkan tempat duduk. Suasana saat itu penuh sesak dan ramai penumpang. Tampak beberapa calon penumpang terlihat masuk melewati kaca jendela, beruntung diantara kami masih dapat tempat duduk meskipun ala kereta ekonomi yang mungkin pernah kita rasakan.

Tunggu Elf

In action

Foto bareng

Mulai mendaki

Istirahat

Wah senengnya...

In action

In action

Foto keluarga

Cogan..cowok-cowok ganteng...hehehe

Hai...

Foto keluarga

Foto bareng

Pukul 07.45 pagi, Kereta Rangkas Jaya yang kami tumpangi mulai meninggalkan Stasiun Tanah Abang. Sekitar 1,5 jam kemudian, saya dan rombongan tiba di Stasiun Rangkasbitung tempat terakhir dimana kereta ini berhenti. Selanjutnya berjalan ke arah belakang stasiun untuk berganti kendaraan. Di sana ada semacam terminal kecil yang tersedia beberapa jurusan seputaran lebak, Banten dan sekitarnya. Setelah menanti beberapa lama, akhirnya mobil elf sudah siap untuk mengantarkan kami sampai ke Desa Ciboleger. Kurang dari 2 jam  untuk mencapai lokasi tersebut. Sesampainya di sana kami disambut oleh Kang Agus Bule dan Kang Wahyudin yang siap mengantar kami untuk menjelajah Badui Dalam.

Jalur Ciboleger sendiri merupakan pintu utama untuk masuk perkampungan Badui, karenanya menjadi jalur padat dan ramai dilalui wisatawan yang ingin masuk ke perkampungan Badui. Ciboleger di bentuk sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang hendak berkunjung. Layaknya fasilitas wisata modern, di area sini terdapat penitipan kendaraan, parkir yang luas serta warung-warung yang menyediakan souvenir khas Badui dan aneka makanan. Guide dan tukang pikul pun siap mengantar jika pengunjung memerlukannya. Namun hal itu akan berbeda jika para pelancong Badui melewati jalur Pasir Nangka dan Desa Nangerang atau yang disebut jalur pintu belakang atau pintu dapur yang relatif sepi dari keramaian. Pada umumnya seluruh komunitas orang Badui tinggal di lembah, lereng bukit dan pegunungan yang diapit oleh Hutan Larangan dan Hutan Titipan.

Setelah mengurus perijinan ,saya bersama Tim Mlancong-ers bersiap mendaki. Cuaca panas siang hari mengiringi jejak-jejak kaki kami ketika mulai melangkah masuk dan melewati tugu pembatas perkampungan Badui dengan dunia luar. Menyusuri emperan rumah-rumah adat Badui yang berjejer rapi banyak dimanfaatkan oleh para pedagang dari luar Badui untuk menawarkan beberapa oleh-oleh khas Badui menjadi pemandangan berikutnya. Daerah ini termasuk  wilayah Badui luar atau kampung Kaduketug yang menjadi kampung pertama yang kami singgahi. Setengah jam berlalu, kami mulai memasuki kawasan hutan lindung yang masih perawan dan sangat terjaga keasriannya.

Lebatnya hutan dan hijaunya bebukitan yang terlihat memanjakan pandangan mata. Bersama tanjakan mengiringi pendakian telah menjadi menu setia yang harus dilewati. Beberapa rekan saya, Asri, Sari dan Devi sudah tampak kelelahan. Di suatu titik percabangan, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian. Berjalan menuju ke perkampungan Badui Dalam sebenarnya bisa dikatakan tidak ada jalur atau jalan yang benar-benar tetap. Jika salah memilih jalan, bisa-bisa terjebak masuk ke dalam hutan, sehingga guide atau penunjuk jalan sangat dianjurkan.

Jalur berikutnya adalah melipir ke arah utara, naik bukit turun bukit, menyeberangi beberapa anak sungai dan melintasi beberapa perkampungan Badui luar sampai menembus kawasan Danau Dang Dang Ageng yang cukup tenang. Sedangkan kampung Kaduketer adalah desa terakhir  sebelum kami kembali masuk ke dalam hutan perawan Badui. Disuatu titik tertentu kami sudah mendekati perbatasan Badui Luar dan Badui Dalam. Sungai sungai besar maupun kecil juga berfungsi menjadi pembatas yang membedakan wilayah perkampungan Badui Luar dan Badui Dalam. Atau jembatan yang terbuat dari bambu yang diikat oleh tali dari kulit kayu diantara pohon besar yang tumbuh di seberang sebelah kiri dan kanan sungai tanpa menggunakan paku dijadikan sebagai penghubung diatara keduanya.

Pukul 04.00 sore saya dan semua rombongan Mlancong-ers sudah memasuki kawasan Badui Dalam. Pemandangan alam nan indah yang ditawarkan pun cukup menggoda. Tapi sayang di area Badui Dalam kami tidak boleh mengmabil gambar, menyalakan HP ataupun yang berbau teknologi. Saat langkah sudah semakin gontai, satu bukit terakhir sudah terlewati, tanda tanda kehidupan di perkampungan Badui Dalam semakin dekat adanya, ketika saya melewati jembatan yang terbuat dari pohon bambu sepanjang 20 meteran.

Tak berapa jauh melangkah saya tiba di Desa Cibeo yaitu salah satu perkampungan Badui Dalam yang sering dikunjungi oleh masayarkat luar. Di salah satu rumah penduduk kami akan bermalam. Beberapa rekan mlaconger , Yulia, Tata, Reni, Nita dan Nur sudah tiba duluan dan disusul semua rekan yang lain sebelum petang tiba. Suasana sore berganti gelap , dalam keremangan malam ditemani cahaya senter diantara kami pergi ke sungai sekedar membasuh muka ataupun mandi. Suara gemercik air dan desiran angin mengalun indah mencipta damai.

Dalam cuaca dingin kami makan malam dan mengakrabkan antar sesama, melanjutkan diskusi dengan salah satu tokoh masyarakat Desa Cibeo. Ayah Mursyid menjelaskan dengan gamblang dan jelas. Dari mulai sejarah lahirnya Badui Dalam dan Luar, kenapa hanya ada tiga desa di Badui Dalam (Desa Cibeo, Ciketawarna dan Cikeusik), ajaran Sunda Wiwitan yang mereka anut, mata pencaharian sampai prinsip-prinsip hidup yang mereka junjung. Dan terakhir bagaimana Suku Badui belajar dari alam, mencintai alam dan kembali ke alam sebagai penutup rangkain dari semua obrolan sebelum kami memejamkan mata dalam balutan alam Badui.

Esok paginya saya sengaja mandi saat pagi belum sempurna. Aliran sungai nan jernih cukup menyegarkan badan, membangkitkan semangat kembali. Sambil menyaksikan dan merasakan sentuhan  sinar matahari yang muncul perlahan  di balik bukit dan sela-sela ranting pohon Durian mewarnai aktivitas Masyarakat Cibeo. Berjalan bergegas menuju ke huma, kebun, hutan dan sungai mulai dari tua, muda laki-laki dan perempuan.

Dalam hangatnya suasana saya dan beberapa teman mlanconger ikut membaur, berkeliling dan mengamati seputaran kampung Cibeo. Semua rumah yang tertata rapi ,terbuat dari bambu tak lebih dari seratus rumah. Sesekali kami menyapa mereka, walaupun ada beberapa penduduk yang masih tampak malu-malu ataupun menutup diri. Umumnya penduduk Badui Dalam menggunakan pengikat kepala dengan warna sama, disebut romal. Di Badui Dalam, romal berwarna putih dan Badui luar berwarna hitam atau biru tua dengan sentuhan motif batik sebagai pembeda. Puas menikmati segala sajian untuk bisa merasakan getaran pikiran dan perasaan hari mereka, kami bersiap kembali ke Dunia luar.

Perjalan pulang kami awali pukul 08.00 pagi. Berbeda dengan jalur naik, kami melewati jalur selatan dan bermuara pada Kampung Gazeboh. Pemandangan alam yang disuguhkan sangat menakjubkan, sungai-sungai yang airnya amat bening dan batu batu besar berserakan, serta hamparan huma, tanaman padi darat, menghiasi bukit dan gunung gunung dalam perjalanan turun. Jembatan pertama pertanda sebagai batas untuk masuk badui luar sudah terlewati.

Tampak beberapa perkampungan badui luar dan terakhir adalah jembatan Gazeboh sebelum memasuki perkampungan Gazeboh. Beberapa penduduk tampak sedang menenun atau membuat barang barang antik untuk dijual. Perjalanan berlanjut, tanjakan panjang sekitar 500 meter adalah menu terberat yang harus ditempuh.  Arif dan Ari dua rekan saya tampak sedikit keteteran, begitupun saya. Dan inilah tanjakan terakhir yang benar-benar menjadi akhir kenangan sebelum kami semua tiba di Desa Ciboleger pada siang hari.

Akhir perjalanan yang berliku menyibak misteri kehidupan yang ikut kami rasakan, tak kala membaur dengan cara hidup dan bagaimana suku Badui menghargai alam. Sangat berat  untuk berpisah, melepas kenangan selama dua hari satu malam bersatu padu dengan alam Badui. Menatap bijak dan kejujuran yang tertanam kuat, biarlah jejak dan pencapaian kami  terus melebur di sana, dan terbungkus erat dengan damainya alam.

 

Salam Rimba,

Dance

 

 

 

 

 

 

 



Kirim komentar

Nama :

Email :

Isi Komentar :

Masukan Angka Berikut ini : 669


×