Menikmati Surga di Pulau Peucang

Jumat, 26 Maret 2010

wisata indonesia

Bagi para adventure tentu tak asing lagi mendengar Pulau Peucang, baik yang sudah berkunjung kesana ataupun mengetahu melalui TV, website atau media-media lainnya. Gambaran-gambaran yang pernah kita lihat dan kita dengar ternyata tak jauh beda dengan apa yang ada disana, bagaimana proses perjalanan kesana yang memang menyenangkan dan penuh tantangan. Pesona keindahan alam yang bisa membuat hati terpikat pun akan banyak kita temukan disana.

Pulau Peucang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Untuk mencapai kesana di perlukan waktu yang cukup lama, karena memang jarak yang lumayan jauh dari Ibukota. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena memang telah menjadi impian kecil kami
semua untuk pergi kesana,. Waktu itu rombongan yang terdiri dari 13 orang bergerak menuju kesana pada Jum'at malam ( 03 Oktober 2003 ) pukul 21.30. Perjalanan sepanjang tol Jakarta-Merak memang perjalanan yang cukup menjemukan karena praktis hanya hamparan sawah kering yang membentang disepanjang kanan-kiri jalan tol, tidak ada sesuatu yang membuat menarik untuk dilihat dan di nikmati, di tambah pencahayaan lampu yang kurang memadai. Namun begitu keluar tol di Cilegon segera pemandangan indah lampu warna-warni yang menjulang tinggi dari pabrik-pabrik yang ada dikawasan itu membuat kami semua menjadi fresh lagi untuk menikmati perjalanan. Mobil yang kami tumpangi terus melaju ke arah barat. Sepanjang jalan yang kami lewati adalah pantai-pantai Anyer dan Carita hingga kita bisa melihat putihnya ombak dan hembusan angin pantai yang membuat jiwa dan hati tentram sembari mengagumi keagungan Ilahi malam itu. Tak berapa lama kemudian sampailah kami di penginapan Lippo Carita untuk menghabiskan waktu malam. Karena sudah cukup lelah kami semua segera menuju peraduan untuk menyongsong perjalanan esok pagi.

Keesokan harinya selepas subuh Sabtu ( 04 Oktober 2003 ) kami melanjutkan perjalanan ke arah desa Citangkil. Kali ini rombongan ditemani rekan-rekan dari WWF yang akan memandu kami sampai di Pulau Peucang, salah satunya Bang Pinor, yang telah mengetahui seluk beluk Ujung Kulon. Karena menurut Bang Pinor di Pulau Peucang tidak ada restaurant dan semacamnya, kami membeli segala keperluan logistik di Pasar Labuan. Rencananya kami akan menyewa tukang masak dari desa Paniis untuk menemani kami selama berada di pulau Peucang. Wuiih... terbayang sudah di benak kami keayikan berpetualang di Pulau itu. Perjalanan segera kami teruskan untuk menuju desa Citangkil. Jalanan yang turun naik, belokan-belokan tajam dengan suasana yang sejuk mengikuti perjalanan ini karena hutan tropis yang mengapit jalan sekaligus membuat keasikan tersendiri menempuh perjalanan lewat jalur ini. Dibalik mulusnya jalan kadang kita temukan lubang-lubang yang cukup besar hingga kita harus ekstra hati-hati kalau tidak mau as mobil kita patah.

Bersiap ke pulau Peucang dari Paniis

Dua jam lamanya kami menempuh perjalanan ke Citangkil yang merupakan etape pertama jadwal perjalanan kami ke Pulau Peucang. Dalam perjalan tersebut kami mengunjungi CANOPI salah satu persatuan remaja binaan WWF di desa tersebut. Berbagai kreatifitas banyak mereka ciptakan sebagai hasil karya bersama. Selain membuat kaos dengan gambar khas badak bercula satu dan marking ujung Kulon juga membuat patung kecil badak bercula satu dari kayu mahoni yang unik dan lucu. Rata-rata kaos tersebut dijual dengan harga 30 ribu s/d 50 ribu begitupun dengan patungnya tergantung dari ukurannya dengan harga antara 20 ribu s/d 50 ribu rupiah. Setelah membeli handicraft tersebut kami pun melanjutkan perjalanan ke arah desa Paniis. Kurang lebih setelah menempuh perjalanan 1 jam kami tiba di markas WWF yang terletak di Sumur. Bertemu dengan Pak Hari salah satu koordinator WWF di wilayah tersebut sangat menyenangkan sekali. Kami banyak berdiskusi mengenai peran WWF khususnya didareah ini. ," Kami ingin memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup," kata Pak Hari. Apalagi memang rumah-rumah penduduk tersebut berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon. Selain hal tersebut WWF juga menjadi mediator jika ada pihak-pihak lain yang ingin mengadakan kegiatan bersama dengan penduduk setempat. Walaupun kelihatan pendiam namun Pak Hari juga sempat mengecam kebijakan pemerintah yang memberikan HPH kepada para pengusaha yang lebih banyak menghasilkan kerusakan daripada keberhasilan.

Hampir setengah jam lamanya kami berada disitu sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Desa Paniis. Kali ini kami betul-betul merasakan apa sebetulnya arti off road. Jalanan yang berlobang, berbatu turun naik harus kami lewati sepanjang 12 km. Namun kekesalan itu seakan berakhir ketika 3 km menjelang Paniis jalanan yang kami lewati hanya berbatas beberapa meter dari bibir pantai, hingga birunya laut membuat hati serasa menjadi biru pula mengikuti samudra. Kurang lebih jam 12.30 kami sampai di desa Paniis, yang membuat kami terharu ketika datang 2 rombongan mobil kami disambut oleh puluhan anak kecil yang melambai-lambaikan tangan serta tertawa riang melihat kedatangan
kami. Sesampainya disana perut kami sudah keroncongan semua. Untunglah teman-teman WWF yang baik hati tersebut telah kenal baik dengan bapak Lurah setempat, sehingga kami semua mendapatkan jamuan makan siang dirumah Bapak kepala desa tersebut. Sungguh keramahan yang tidak disangka-sangka. Setelah berbincang-bincang dengan bapak kepala desa serta penduduk sekitar kami segera menuju ke bibir pantai yang terletak tak jauh dari rumah penduduk untuk menuju Pulau Peucang.

Perjalanan ke Pulau Peucang kali ini ditemani oleh beberapa penduduk sekitar yang akan membantu menyiapkan akomodasi dan logistik selama berada di sana. Begitu melihat perahu yang akan membawa rombongan, sempat was-was juga, karena ternyata kami akan diangkut dengan perahu Nelayan tanpa "life jacket". Namun sudah kepalang tanggung apabila kami membatalkan niat pergi ke Peucang. Ya sudahlah, sambil berdoa satu per satu anggota rombongan naik ke perahu yang telah tertambat di tepi pantai. Segera setelah selesai semua perahupun mulai melaju dengan tenangnya. Namun ketenangan itu mulai terusik ketika perlahan-lahan namun pasti ombak mulai datang. Ombak yang datang bergelombang bahkan kadang-kadang tingginya sampai 1,5 m betul-betul membuat jantung kami seakan mau lepas. Perahu terhempas ombak dan langsung kami semua basah kuyup oleh air laut. Rombongan wanita semuanya berteriak karena hampir semuanya dari kami tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Namun Bang Pinor segera menghibur kami kalau ini tidak apa-apa, karena memang sekarang sedang ada angin selatan yang membuat ombak menjadi besar. Walaupun kami masih sedikit takut namun tak mungkin untuk memutar perahu kembali ke Paniis. Hampir satu jam kami was-was terus karena ombak tersebut. Setelah itu barulah ombak tenang dan kami betul-betul bisa menikmati pantai di sepanjang Ujung kulon dengan pasir putihnya, hutan tropis yang masih lebat dan delta-delta yang terlihat jelas dari perahu kami. Melihat pulau-pulau tersebut betul-betul membuat kami semua terdiam, berfikir dan berimajinasi memahami keindahan itu.

diatas perahu nelayan menuju Pulau Peucang, mendebarkan.

Setelah 3,5 jam berada di atas perahu tampaklah didepan mata sebuah pulau kecil dengan pantainya yang indah..ya itulah Pulau Peucang yang selama ini hadir dalam impian kami namun sekarang jadi kenyataan. Perahu segera ke tepi dan merapat ke dermaga kecil untuk segera menurunkan kami semua. Kami semua begitu senang, hingga tak buru-buru ke cottage namun foto-foto dulu di dermaga kecil bak foto model yang sedang mengadakan pemotretan. sudah hampir maghrib kami tiba disana hingga kami langsung menuju ke penginapan untuk berbincang-bincang dan makan malam. Posisi villa yang menghadap ke lapangan bebas membuat kami bebas memandang monyet-monyet yang berkeliaran, kijang, rusa dan biawak yang sedang bermain-main. Asyik sekali memang..kami dan beberapa teman pun bermain-main dengan rusa yang kelihatan jinak tersebut.

Beraksi di Dermaga
Dermaga Peucang

Malam hari kami banyak bercerita dengan Bang Pinor dan rekan-rekan disana mengenai Badak bercula satu. Konon ceritanya hewan ini adalah satu-satunya satwa didunia yang ada di Ujung kulon dan masih tersisa sampai saat ini. Diperkirakan jumlah badak bercula satu ini hanya sekitar 40 - 60 ekor yang tersebar di taman konservasi Ujung Kulon. Tidak gampang untuk dapat bertemu dengan hewan ini karena badak bercula satu ini mempunyai penciuman dan pendengaran yang sangat tajam. Menurut bang Pinor, "Hewan ini bisa mencium keberadaan manusia dalam radius 500 meter". Para peneliti harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk bertemu dengan hewan ini, itupun kalau beruntung. Badak dewasa panjangnya rata-rata 6 - 8 meter dan beratnya antara 700 kg - 1000 kg. Karena beratnya ini jejakan kaki dan lengusannya pun bisa terdengar dari jarak ratusan meter. lagi-lagi tidak ada yang bisa kita katakan..hanya luar biasa...pantas saja perhatian masyarakat dunia khususnya yang peduli akan kelestarian hewan ini sangat konsen sekali. Mari kita dukung gerakan pelestarian badak ini..!!

Di Depan Vlila di Pulau Peucang

Pulang ke penginapan setelah puas berenang dan snorkling

Minggu (05 oktober 2003) pagi-pagi sekali sebelum menyeberang ke Cidaon, kami sempatkan berenang di pinggir pantai pulau Peucang dan Snorkling. betapa asyiknya, hingga tidak dapat terungkap dengan kata-kata. Setelah puas berenang perjalanan kami lanjutkan ke Cidaon yang terletak di Ujung kulon berhadap-hadapan langsung dengan Pulau Peucang. Cidaon adalah ujung Pulau Jawa sedangkan Peucang terpisah dengan P.Jawa ( lihat peta ). kami hanya menempuh 10 menit untuk sampai ke Cidaon menggunakan kapal cepat, dan perjalanan ke dalam diteruskan dengan jalan kaki dengan dikawal oleh Jagawana (Polisi kehutanan). Rata-rata tanaman yang ada di dalam hutan ini adalah tanaman yang berduri hingga nama lain dari hutan ini dikatakan dengan hutan berduri. Kurang lebih 300 meter berjalan ke dalam sampailah kami di savana (padang rumput) tempat berkumpulnya para hewan-hewan. Pagi itu terasa sepi, namun kami masih beruntung masih ada puluhan banteng yang bermain-main disitu. Tapi tak lama kemudian mereka bubar karena ternyata bisa mencium kehadiran rombongan kami. Sesaat setelah mengelilingi savana kemudian kamipun kembali ke Pulau Peucang untuk mandi dan berenang 'lagi' di tepi pantai. Mmmm *puas*.

Di Savana Cidaon
Pagi hari di Cidaon, istirahat setelah trekking
Jam 10.00 (Minggu, 05 Oktober 2003) kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Rupanya angin selatan dalam perjalanan pulang kali ini lebih dahsyat dari perjalanan berangkat kami. Ombak dan angin yang menjadi satu membuat perahu jadi basah kuyup termasuk penumpangnya. kami pun hanya bisa diam menahan rasa takut akan keganasan air laut ini. Perahu (Nelayan) yang kami tumpangi naik turun tak beraturan seiring dengan deburan ombak yang tak mengenal kompromi ini. hampir 3 jam kami melawan ombak yang membuat jantung kami semua hampir tak berdetak. Akhirnya setelah melewati ganasnya angin selatan yang membawa ombak daratan Paniis mulai kelihatan dan ombak perlahan-lahan mulai tidak ada. Perasaan lega dan bahagia menghinggapi hati kami semua seiring dengan pasir putih Paniis yang kelihatan dari jauh. Sebelum perahu merapat ke pantai kami semua pun terjun ke laut kemudian berenang ke tepi untuk merayakan perjalanan dari Pulau Peucang yang asyik dan menegangkan. Perjalanan ini akan kami kenang selamanya....
Pelangi di Pulau Peucang... Hmm Beautiful...
Pulau Peucang dari Kapal

Indahnya...Cidaon di Pagi hari

Woww...Putihnya Pasir Peucang

Peucang sebuah epos keindahan yang tidak terlupakan...
I left my heart in Peucang......

Artikel oleh: AMGD
Foto-foto oleh: Tony Indarto

 



Kirim komentar

Nama :

Email :

Isi Komentar :

Masukan Angka Berikut ini : 333


×
 

Trip Mlancong




Provinsi