Museum Dirgantara Mandala, Yang Beda Dari Wisata Jogjakarta

Rabu, 4 Januari 2012

wisata indonesia

Museum ini terletak di ujung utara Kabupaten Bantul berbatasan dengan Kabupaten Sleman. Tepatnya di Komplek Pangkalan Udara (Lanud) TNI-AU Adisucipto Jogjakarta. Kalau dari arah Kota Surakarta, setelah sampai di pertigaan Janti, belok ke kiri. Ketika sudah sampai disini, Tanya saja deh sama orang setempat, pasti akan segera ditunjukkan jalan ke arah museum.

Bapak AURI

Ruang utama museum

RI-X

Sejarah Operasi Dwikora

Koleksi seragam dinas

Pesawat Glider Kampret

North American B-25 Mitchel

Hanggar pesawat sekaligus museum

Peluru kendali SA 75

Tiket masuk museum pun tergolong sangat murah, hanya Rp 3 ribu per kepala. Dan kalau kita sebagai rombongan besar (lebih dari 50 orang) masih dapat diskon.  Begitu sampai di ruang utama, pemandangan sudah sangat mengasyikkan. Hamparan rumput hijau di depan museum, dipadu dengan pepohonan besar rindang. Hawa terasa sejuk meski berada tak jauh dari pusat kota Jogjakarta. Sesekali, suasana museum dipecahkan oleh suara berbagai jenis pesawat komersial yang akan take off maupun landing di Bandara Adisucipto.

,”Saya kesini untuk mengantarkan anak saya yang masih SD, biar pengetahuannya bertambah,” kata Ibu Eko dari Kebumen. Di hari-hari libur sekolah ataupun libur panjang memang museum ini sangat ramai sekali. Sampai-sampai di hanggar yang begitu besar sesak dengan orang.

Museum Dirgantara Mandala ini banyak menampilkan sejarah kedirgantaraan bangsa Indonesia serta sejarah perkembangan angkatan udara RI pada khususnya. Selain terdapat diorama juga terdapat bermacam-macam jenis pesawat yang dipergunakan pada masa perjuangan. Beberapa model dari pesawat tersebut adalah milik tentara Jepang yang digunakan oleh Angkatan Udara Indonesia (AURI), saat kemerdekaan.

Begitu masuk ke museum (hanggar), berbagai jenis pesawat menyambut dan memberi pandangan dan kesan luar biasa. Di dalam ruangan ini, pesawat-pesawat yang dipakai untuk perang kemerdekaan hingga mempertahankan kedaulatan RI di udara dipamerkan.

Mulai dari Zero, C-47 Dakota, P-51 Mustang, F-86 Sabre hingga sederet pesawat buatan Rusia dari jenis Mig dipamerkan. Lengkap dengan nama pesawat, jenis, tahun pembuatan dan negara produsennya. Kondisinya, meski jelas sudah tidak bisa terbang, masih terbilang bagus. Bahkan ada juga helikopter pertama produksi Indonesia yang pernah dinaiki oleh first lady Fatmawati, istri Presiden RI pertama Ir Soekarno.

Di sisi lain museum, ditempati berbagai alutsista (alat utama sistem senjata) milik TNI AU. Beberapa di antaranya adalah rudal antipesawat, senjata PSU (penangkis serangan udara) dan beberapa senapan yang dipakai oleh pasukan Indonesia yang melawan Belanda waktu itu. Beberapa pesawat, dirancang bisa dinaiki oleh pengungjung. Tentu saja secara statis, tidak diterbangkan. Jadi siapapun bisa langsung tahu keadaan di dalam pesawat, dan teknologi yang sudah ada saat itu.

“Hebat ya negara ini. Pada zaman perang kemerdekaan sudah punya dan bisa mendidik kadet penerbang. Bahkan, bisa menyerang Belanda di Semarang dan Ambarawa dengan pesawat. Meski bukan pesawat baru saat itu, itu sudah sangat membanggakan,” kata Andri Hutama, warga Magelang yang juga berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala Jogjakarta bersama keluarganya.

Museum ini pun banyak menceritakan sejarah keterlibatan TNI AU untuk menegakkan Merah Putih. Mulai dari sejarah Agresi Militer Belanda II yang menyerangkan Lanud Adisucipto (waktu itu masih bernama Maguwo). Di sekuel ini, dalam sebuah diorama diceritakan bagaimana perjuangan penghabisan para anggota Pasukan Pertahanan Pangkalan Udara Maguwo. Di sisi ini, museum menyimpang potongan C-47 VTCLA yang ditumpangi para perwira TNI AU, Adisucito, Adisumarmo dan Abdulrahman Saleh. Pesawat itu jatuh karena ditembak Belanda dan para perwira ini gugur. Selain kisah ini, masih banyak diorama lain di museum. Oh ya, jangan lupa. Di dalam museum, pengunjung terutama anak-anak, bisa menyewa baju pilot dan berfoto di dalam museum.

Di halaman museum, ada beberapa koleksi pesawat legendaris milik TNI AU yang dipajang. Di antaranya, A-4 Skyhawk dan PBY Catalina. Yang disebut terakhir ini adalah pesawat amphibi yang bisa take off maupun landing dari air. Kemudian, di satu sudut halaman museum, terdapat  sebuah alut sista buatan bekas Uni Sovyet. Nama pesawatnya TU-16. Indonesia pernah memiliki belasan dengan beberapa tipe jenis pesawat yang dijuluki Badger oleh Amerika itu. Salah satunya yang terkenal adalah TU-16 KS. Karena kekuatan deterrence pesawat inilah, Belanda angkat kaki dari Papua, sehingga Trikora berakhir dan Pulau Cenderawasih itu kembali ke pangkuan RI.

Begitulah kekayaan wisata Yogya, dan yang menjadi referensi dikunjungi adalah Museum Dirgantara Mandala.

By : AMGD

(Sumber : Datang langsung dan berbagai sumber)



Kirim komentar

Nama :

Email :

Isi Komentar :

Masukan Angka Berikut ini : 609


×
 

Trip Mlancong




Provinsi