Lumpur Porong, Antara Duka dan Asa

Senin, 28 November 2011

wisata indonesia

Beberapa waktu lalu ketika saya berkunjung kesana memang kondisinya terlihat menyedihkan. Ribuan rumah dan puluhan pabrik terendam lumpur. Inilah yang dikatakan sebagai peninggalan sejuta kisah, baik kisah sedih maupun kisah bahagia.

Pintu masuk

Naik melalui tangga kayu

Tukang ojek sudah menanti

Menelusuri tanggul Porong

Pembuangan lumpur

Jangan dibongkar..belum dibayar

Badan Penanggulangan bencana

Lumpur yang telah dingin

Terlihat Gunung Pananggungan

Atap2 pabrik

Dikatakan kisah bahagia, karena rumah-rumah dengan surat yang lengkap segera mendapatkan ganti rugi yang sesuai, bahkan lebih dari harga pasar yang berlaku saat itu. Sehingga yang bersangkutan bisa segera mencari ganti rumah dan bahkan memulia usaha yang baru.

Dikatakan kisah duka, karena rumah-rumah yang suratnya tidak lengkap atau bahkan tidak ada suratnya, menurut orang setempat belum mendapatkan ganti rugi. Ditengah duka dan bahagia tersebut, ada sebersit asa dari mereka yang belum mendapatkan ganti rugi dengan memanfaatkan potensi wisata yang ada.

Lumpur porong memang menarik perhatian dunia, sehingga orang luar Surabaya maupun orang asing yang ke Surabaya biasanya mampir ke Porong. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh penduduk korban lumpur Porong untuk mengais rejeki halal. Bagi pengujung yang datang, untuk parkir mobil saja dikenakan biaya parkir Rp 10 rb, kemudian tiket masuk (tidak resmi) dikenakan biaya Rp 20 rb per orang.

Sebetulnya cukup mahal buat saya, namun karena mereka berdalih untuk penduduk korban Porong yang belum mendapat ganti rugi, ya sudahlah. Sayangnya mereka terlihat liar karena tidak adanya identitas atau seragam yang mengidentifikasi mereka. Seandainya pakai seragam, tentu akan menjadi lebih bagus karena terlegitimasi.

Ketika sampai di atas tanggul dengan ketinggian kurang lebih 14 meter dari jalan raya, puluhan tukang ojek menawarkan jasanya. Untuk keliling sebagian lokasi dipatok uang jasa Rp 20 rb, untuk keliling semua lokasi, dipatok dengan harga Rp 50 rb. Mereka juga mengatasnamakan paguyuban penduduk korban Porong.

Saya sendiri memilih naik ojek keliling lokasi, sekalian ingin membantu penduduk setempat. Lumpur Porong memang melibas apa saja yang ada di sekitarnya, terlihat beberapa rumah yang tinggal sebagian, puing-puing bangunan, bahkan ada beberapa bangunan yang dibiarkan rusak dan berdiri dengan bertuliskan,”Jangan dibongkar, karena belum dibayar.”

Beberapa atap pabrik paling atas juga masih terlihat karena bangunan yang ada di bawahnya sudah terendam, memang dahsyat bencana lumpur Porong, membuat ribuan orang menderita. Harapan saya sendiri, tak ada salahnya jika Porong diresmikan sebagai tempat wisata dengan kerjasama yang baik antara Pemda dan penduduk korban Porong. Hal ini agar penduduk setempat korban porong yang belum mendapatkan pekerjaan, bisa mengais rezeki yang halal dari sini.

Bencana Porong, mudah-mudah2an tidak terjadi di tempat lain, dan para kontraktor seyogyanya berhati-hati dalam pengerjaan pengeboran.

 

By : AMGD



Kirim komentar

Nama :

Email :

Isi Komentar :

Masukan Angka Berikut ini : 103


×
 

Trip Mlancong




Provinsi